URBANTALK – Panen raya padi sawah di Kelurahan Potoro, Kecamatan Andoolo, bukan sekadar seremoni pertanian. Kegiatan yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal dan temu wicara petani ini menjadi penanda kuat arah Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) dalam mendorong swasembada pangan nasional.
Bupati Konawe Selatan, Irham Kalenggo, menegaskan bahwa momentum panen raya ini merupakan bagian dari strategi besar daerah dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis produksi lokal.
“Panen raya ini bukan hanya perayaan hasil, tetapi bukti bahwa Konawe Selatan memiliki kapasitas dan komitmen untuk menjadi daerah penyangga pangan nasional. Di tengah tantangan global, kita justru menunjukkan tren peningkatan produksi yang signifikan,” ujar Irham.
Secara kuantitatif, Konsel memiliki luas baku sawah sekitar 20.149 hektare dengan produktivitas rata-rata 4–6 ton per hektare. Pada tahun 2025, total luas tanam mencapai 29.110 hektare dengan produksi sebesar 125.174 ton gabah kering panen (GKP).
Di tahun 2026, pemerintah daerah menargetkan produksi yang lebih ambisius, yakni 150.000 ton GKP. Target tersebut akan dicapai melalui peningkatan indeks pertanaman, optimalisasi lahan, serta penguatan dukungan sarana dan prasarana pertanian.
“Kami mendorong peningkatan indeks tanam, penggunaan teknologi pertanian modern, hingga distribusi bantuan alat dan mesin pertanian. Ini adalah kerja terintegrasi antara pemerintah dan petani,” tambahnya.
Keberhasilan Konsel tidak hanya terlihat dari peningkatan produksi, tetapi juga perannya sebagai daerah penyangga pangan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman 10.000 ton beras ke Provinsi Sulawesi Utara, yang menandai pergeseran posisi Konsel dari sekadar pemenuh kebutuhan lokal menjadi pemasok antarwilayah.
Dalam upaya menuju swasembada, pemerintah daerah juga mendorong transformasi sistem pertanian melalui sejumlah langkah strategis, di antaranya gerakan tanam dan panen serentak, pemanfaatan teknologi seperti drone, pembangunan infrastruktur pertanian, serta peningkatan kapasitas petani melalui temu wicara langsung.
Selain sektor padi, Konsel turut memperkuat komoditas perkebunan sebagai penopang ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Pada tahun 2026, pengembangan diarahkan pada beberapa komoditas unggulan, seperti kakao seluas 6.000 hektare, kelapa dalam 5.000 hektare, jambu mete 1.200 hektare, pala 400 hektare, dan lada 200 hektare.
“Diversifikasi komoditas menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi petani. Kita tidak bisa hanya bergantung pada satu sektor saja,” jelas Irham.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, terutama terkait luasan lahan efektif dan sistem pengairan. Pemerintah daerah memastikan akan terus melakukan intervensi kebijakan secara bertahap dengan dukungan lintas sektor, termasuk lembaga seperti Bulog dan BPS.
Di sisi lain, kawasan persawahan Potoro seluas 116 hektare juga diproyeksikan menjadi kawasan agrowisata, yang diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru berbasis pertanian.
Panen raya di Potoro menjadi lebih dari sekadar hasil musim tanam. Ia mencerminkan konsistensi kebijakan, kekuatan kolaborasi, serta optimisme daerah. Dengan tren produksi yang terus meningkat, ekspansi lahan, pemanfaatan teknologi, dan keterlibatan aktif petani, Konawe Selatan berada di jalur yang realistis untuk menjadi salah satu lumbung pangan strategis di Indonesia.
Jika konsistensi ini terus terjaga, swasembada pangan bukan lagi sekadar target jangka panjang, melainkan visi yang semakin nyata di depan mata.









