Jakarta, URBANTALK.ID – Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa pelindungan perempuan di ruang digital kini menjadi agenda prioritas di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Dalam keterangannya seperti yang dikutip Antara, Rabu, Meutya menyebut bahwa tantangan di era digital telah bergeser. Jika sebelumnya fokus utama adalah membuka akses bagi perempuan, kini perhatian harus diarahkan pada memastikan akses tersebut dapat dimanfaatkan secara aman dan produktif.
“Kalau dulu kita berjuang membuka akses, hari ini tantangannya adalah memastikan akses tersebut dapat dimanfaatkan dengan aman dan produktif. Ketika akses terbuka lebar, pelindungan terhadap perempuan harus semakin kuat,” ujarnya.
Data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan konektivitas digital Indonesia telah menjangkau sekitar 80 persen populasi atau lebih dari 223 juta jiwa. Angka ini membuka peluang besar bagi perempuan untuk terlibat aktif dalam ekonomi digital maupun kehidupan publik.
Namun di balik peluang tersebut, pemerintah juga menyoroti meningkatnya ancaman di ruang digital. Kejahatan seperti penipuan keuangan, eksploitasi, hingga penyebaran konten berbahaya menjadi perhatian serius yang harus diantisipasi.
Sebagai langkah konkret, pemerintah telah menerapkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau PP Tunas. Regulasi ini mengatur tata kelola sistem elektronik dalam pelindungan anak, termasuk pembatasan akses bagi anak di bawah usia 16 tahun terhadap platform berisiko tinggi.
“Harapan kami, dengan aturan ini tidak hanya anak-anak yang terlindungi, tetapi seluruh ekosistem digital menjadi lebih sehat. Orang tua juga akan lebih tenang saat anak dan keluarganya beraktivitas di dunia digital,” kata Meutya.
Lebih jauh, ia juga menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan hingga ke level pengambilan keputusan strategis, termasuk di lingkungan pemerintahan. Menurutnya, kehadiran perspektif perempuan sangat krusial dalam menghasilkan kebijakan yang inklusif dan responsif terhadap ketimpangan.
Meutya menutup dengan menegaskan bahwa keseimbangan peran antara perempuan dan laki-laki merupakan kunci kekuatan bangsa dalam menghadapi tantangan global.
“Perempuan dan laki-laki adalah dua sayap bangsa. Jika keduanya bergerak seimbang, Indonesia akan mampu terbang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan global,” pungkasnya.










