Urbantalk.id | Konawe – Sebanyak 143 hektar sawah di Desa Ameroro, Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), terancam gagal panen akibat minimnya pasokan air.
Ironisnya, lokasi persawahan ini berdekatan dengan Bendungan Ameroro yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2024. Meski demikian, aliran air dari bendungan tersebut tidak mencapai area persawahan milik kelompok tani yang tergabung dalam tiga perkumpulan petani pemakai air (P3A).
Kondisi ini menyebabkan petani kesulitan memulai musim tanam. Hingga saat ini, sebagian besar sawah belum digarap, bahkan banyak lahan yang sama sekali belum ditanami padi meskipun musim tanam telah berlalu. Beberapa petani terpaksa menyedot air buangan dari lahan sawah menggunakan mesin untuk kemudian dialirkan kembali ke petak sawah mereka. Namun, upaya ini memerlukan biaya tambahan yang membebani mereka.
Salah seorang petani, Astamar, mengungkapkan bahwa meskipun telah dilakukan penyedotan air buangan, pasokan air masih belum mencukupi.
“Air yang kami sedot tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sawah. Akibatnya, kami belum bisa melakukan penanaman,” ujarnya, Senin (1/4).
Sementara itu, pengamat pertanian di Ameroro, Asman, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama terhambatnya aliran air adalah keberadaan bangunan ukur ambang lebar di lokasi BAM Satu Sekunder Mamiri. Ia menilai bahwa bangunan tersebut menghalangi distribusi air ke area persawahan.
“Para petani, terutama yang tergabung dalam tiga perkumpulan P3A, yaitu Sumber Rejeki, Saromase, dan Humboto, berharap agar bangunan ambang lebar segera dibuka. Sebelum bangunan ini ada, pengairan sawah berjalan lancar dan tidak mengalami masalah,” kata Asman.
Para petani kini berharap ada solusi dari pihak berwenang agar aliran air bisa kembali normal sehingga mereka dapat menggarap lahan dan terhindar dari ancaman gagal panen.
artikel ini telah terbit dimedia Antara dengan judul 143 hektar sawah di Ameroro Konawe terancam gagal panen akibat kurang ai









