Menepi Sebelum Hari Raya : Makna Puasa Tarwiyah & Arafah di Tengah Hiruk Pikuk Kota

Urban Daerah134 Views

Urbantalk.id | Menjelang Idul Adha 1446 H, kota mulai berubah irama. Pusat perbelanjaan ramai, lalu lintas padat, dan grup WhatsApp keluarga mulai sibuk membahas daging kurban dan rencana liburan. Tapi di antara euforia itu, ada dua hari yang pelan namun dalam : 8 dan 9 Dzulhijjah (4-5 Juni) hari Tarwiyah dan Arafah.

Dua hari ini bukan sekadar hitungan waktu dalam kalender hijriah. Keduanya menjadi ruang spiritual yang dianjurkan untuk diisi dengan puasa sunnah—ibadah yang hening, tapi sarat makna.

Tarwiyah : Waktu untuk Merenung dan Menata Niat

Tanggal 8 Dzulhijjah dikenal sebagai hari Tarwiyah, dari akar kata rawa-yarwi yang berarti merenung atau mengisi. Pada hari ini, jamaah haji mulai bersiap menuju Arafah. Bagi kita yang tidak sedang berhaji, puasa Tarwiyah adalah ajakan untuk ikut bersiap, bukan secara fisik, tapi secara batin.

Puasa ini menjadi momen untuk menenangkan ego, menata niat, dan memaknai ulang arah hidup. Seperti dalam firman Allah:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Rasulullah SAW bersabda:

“Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar ia menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim)

Bagi kita yang tidak berhaji, puasa Arafah adalah salah satu ibadah paling istimewa sepanjang tahun. Tapi lebih dari itu, hari Arafah juga jadi waktu terbaik untuk refleksi dan memperbaiki diri. Dalam Al-Qur’an, Allah bersumpah atas hari ini:

“Demi hari yang disaksikan (Arafah), dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj: 3)

Puasa Arafah mengajak kita untuk berhenti sejenak dari kehidupan yang terlalu cepat. Ia menjadi ruang spiritual untuk mengurai beban, memperbanyak doa, dan menyucikan kembali hati yang mulai lelah oleh rutinitas.

Pilihan Editor  Tahun Baru 2025, Kadis PMD Bombana Ajak Masyarakat Kolaborasi Membangun Desa

Lebaran yang Tidak Sekadar Seremonial

Seringkali kita menyambut Idul Adha hanya secara fisik—dengan pakaian baru, foto keluarga, dan daging kurban. Tapi lewat puasa Tarwiyah dan Arafah, kita diberi ruang untuk menyambut hari raya dengan hati yang lebih bersih.

Karena sejatinya, pengorbanan bukan hanya soal hewan ternak. Tapi tentang hal-hal yang kita relakan demi sesuatu yang lebih tinggi: ego, amarah, dendam, atau keinginan yang menjerat.

Puasa Tarwiyah dan Arafah adalah ruang sunyi yang dalam. Di tengah kota yang tak pernah benar-benar diam, dua hari ini mengajak kita menepi—bukan untuk lari, tapi untuk kembali. Agar saat takbir menggema, kita bisa benar-benar hadir: dengan hati yang ringan, niat yang jernih, dan jiwa yang lapang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *