Novita Handini Luncurkan Buku “Bising dan Hening”

JAWA TIMUR, URBANTALK.ID — Dalam suasana penuh makna memperingati Hari Kartini, sebuah panggung inspirasi bagi perempuan hadir di Trenggalek, Jawa Timur. Bukan sekadar seremoni, tetapi ruang refleksi dan kebangkitan.

Anggota DPR RI, Novita Hardini, secara resmi meluncurkan buku berjudul Bising dan Hening dalam gelaran TGX Women Summit yang berlangsung di Gedung NSC Trenggalek, Sabtu. Peluncuran ini menjadi simbol kuat bahwa suara perempuan—baik yang lantang maupun yang sunyi—memiliki makna dan kekuatan yang sama.

Buku tersebut merangkum perjalanan batin sejumlah perempuan yang bergulat dengan berbagai ujian hidup. Dari kisah jatuh hingga bangkit, “Bising dan Hening” mencoba mengajak pembaca menyelami ruang-ruang paling personal dalam kehidupan perempuan—tempat di mana luka, harapan, dan keberanian saling berkelindan.

Pilihan Editor  DPRD Sultra Gelar Rapat Paripurna Perdana, Gubernur ASR Sampaikan Pidato Awal Masa Jabatan

“Buku ini menjadi refleksi bahwa setiap perempuan memiliki kekuatan untuk menghadapi persoalan hidupnya. Terkadang, yang paling mampu menasihati diri kita adalah diri kita sendiri,” ujar Novita.

Lebih dari sekadar kumpulan cerita, karya ini juga menjadi medium ekspresi—ruang aman bagi perempuan untuk mengabadikan pengalaman hidupnya menjadi sesuatu yang bernilai jangka panjang. Bagi Novita, menulis bukan hanya tentang bercerita, tetapi tentang berdamai dengan diri sendiri.

“Ketika seseorang menuliskan perjalanan hidupnya, lalu membacanya kembali beberapa tahun kemudian, itu bisa menjadi nasihat terbaik bagi dirinya sendiri,” tambahnya.

Tak berhenti pada literasi, TGX Women Summit juga menghadirkan pemutaran film dokumenter dan animasi karya sineas muda lokal. Ini menjadi bukti bahwa geliat ekonomi kreatif di daerah mulai menemukan momentumnya.

Pilihan Editor  Qodari Soroti Ketimpangan, Media Sosial Berperilaku Pers Tanpa Standar

Novita melihat potensi besar generasi muda Trenggalek yang perlahan menunjukkan tajinya, meski tak sedikit yang justru berkembang di luar daerah. Karena itu, ia mendorong lahirnya ekosistem kreatif yang mampu menahan sekaligus mengembangkan talenta lokal.

Ke depan, berbagai program kolaborasi disiapkan—mulai dari workshop hingga boot camp—untuk membina para kreator konten dan sineas muda agar mampu bersaing tanpa harus meninggalkan kampung halamannya.

Di tengah “bising” dunia yang kerap menenggelamkan suara perempuan, Trenggalek justru menghadirkan “hening” yang penuh makna—ruang untuk mendengar, memahami, dan akhirnya, bangkit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *