Urbantalk.id | Bombana – Ribuan ikan nila jenis kekar yang sebelumnya ditebar secara simbolis oleh Pemerintah Daerah Bombana dalam rangka mendukung program 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati, ditemukan mati mendadak hanya beberapa hari setelah dilepas di kolam Ruang Terbuka Hijau (RTH) Rumbia, Kabupaten Bombana.
Kematian massal ikan tersebut memunculkan beragam spekulasi dan sorotan dari masyarakat. Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perikanan Bombana, Ir. Muhammad Siarah, M.Si., saat ditemui di kantornya, Kamis (12/6), membenarkan kabar tersebut.
“Benar, saya sudah diinformasikan oleh Pak Kabid,” ujarnya.
Namun, Siarah membantah bahwa insiden ini disebabkan oleh kelalaian pihaknya atau ketidaksiapan teknis sebelum penebaran ikan dilakukan. Ia menegaskan bahwa uji coba sebelumnya telah dilakukan dengan memperhatikan kadar salinitas (PPT) air.
“Sebelum melakukan penebaran, kami menguji ikan nila kekar ini di air dengan kadar 30 PPT. Sedangkan di kolam RTH hanya 25 PPT, dan ikannya bisa bertahan hidup,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa lokasi penebaran telah dinyatakan layak dan steril, bahkan ikan yang sama telah diuji dalam wadah akuarium tanpa menggunakan kincir oksigen.
Sementara itu, Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Bombana, Ahmad, menyampaikan bahwa penyebab utama kematian ikan diduga berasal dari zat beracun seperti amonia yang muncul akibat limbah rumah tangga dan kuliner yang mencemari air kolam.
“Kandungan racun limbah, seperti deterjen cuci piring dan sampah yang sudah lama mengendap di dalam air, bisa menjadi penyebab,” jelas Ahmad melalui pesan WhatsApp.
Ahmad juga menyebut faktor stres pada ikan akibat keterlambatan proses penebaran saat kegiatan sebagai penyebab tambahan, meski ia menganggap efeknya tidak terlalu besar.
tidak hanya itu, Ahmad juga mengatakan bahwa jenis ikan yang mati tidak hanya ikan nila yang di lepas namun terdapat jenis ikan endemik yang telah lama berada di kolam tersebut.
“itu yang mati juga pak, bukan hanya ikan nila yang kami tebar, tapi ad juga ikan endemik seperti mujair dan titan yang mati” katanya
Untuk mengetahui penyebab pasti, saat ini Dinas Perikanan Bombana tengah membawa sampel air dan ikan dari kolam RTH ke Balai Karantina Provinsi untuk diuji secara laboratorium. Hasil pemeriksaan diharapkan bisa mengungkap faktor utama di balik kematian ribuan ikan nila tersebut, yang terjadi kurang lebih dua pekan setelah penebaran.
Sebelumnya, seorang guru dari SMK Negeri 2 Bombana juga ikut menyoroti kejadian ini. Ia berpendapat bahwa kematian ikan bukan karena keracunan, melainkan karena kesalahan dalam pemilihan lokasi dan spesies ikan yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.










