Dino Patti Djalal : Dunia Memasuki Fase Middle Power, Indonesia Harus Siap

Jakarta, URBANTALK.ID — Chairman of Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal memberikan catatan penting terkait arah kebijakan luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Di tengah ambisi menjadi pemain global, Indonesia diingatkan untuk tidak melupakan stabilitas di kawasan sendiri.

Dino menekankan pentingnya sikap realistis dalam menjalankan peran sebagai kekuatan menengah (middle power) maupun kekuatan regional. Menurutnya, prioritas utama yang harus dijaga adalah keamanan dan kondusivitas di wilayah Asia Tenggara.

“Yang pertama sih kita harus realistis bahwa yang paling penting itu kita harus urus Asia Tenggara. Jadi sebagai Middle Power, apalagi sebagai Regional Power ya kekuatan di Asia Tenggara Kita harus utamakan suatu kondisi dimana,” kata Dino Patti Djalal kepada wartawan di The St. Regis Jakarta, Selasa (14/4).

“Kalau pun perang di Eropa, kalau pun ada perang di Timur Tengah, perang di Afrika bahkan di Asia Selatan ya India-Pakistan kan masih hangat, paling tidak di Asia Tenggara kita aman,” sambungnya.

Pilihan Editor  Jalan Santai Harus Anak Bombana, Hasrat Singgung Pembangunan yang Bermasalah

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini menyoroti adanya persepsi publik mengenai fokus sang Presiden. Ia melihat, ada kecenderungan Prabowo lebih tertarik pada panggung global dibandingkan urusan regional.

“Nah makanya yang paling penting dilakukan oleh Presiden ini adalah mengurus Asia Tenggara dan ada persepsi bahwa Presiden Prabowo itu tidak banyak perhatian terhadap Asia Tenggara dan lebih banyak ingin jadi pemain global yang sah-sah saja, tapi kan kita sangat terbatas di global,” ujarnya.

Dino kemudian memaparkan keterbatasan posisi Indonesia di berbagai forum Internasional yang besar. Ia mencontohkan bagaimana peran Indonesia di blok-blok ekonomi dan politik dunia yang belum terlalu dominan.

“Di BRICS kita masih anak baru dan BRICS juga dalam perang di Timur Tengah ini kemarin tidak banyak berperan. Di G20 juga kan disana banyak yang lain. Ada Amerika, ada Tiongkok, Rusia, Eropa dan lain sebagainya, jadi peran kita terbatas dan di forum-forum lain juga,” jelasnya.

Pilihan Editor  Arief Poyuono Menilai Peluang Gibran Rakabuming Raka Menjadi Presiden 2029 98 Persen

INDONESIA FOKUS KAWASAN TERDEKAT

Menurutnya, Indonesia memiliki kendali yang jauh lebih besar jika fokus pada kawasan terdekat. Asia Tenggara dianggap sebagai arena di mana Indonesia benar-benar bisa memegang kendali situasi.

“Forum dimana kita bisa mengendalikan kawasan, mengendalikan situasi itu adalah Asia Tenggara dan inilah sebabnya kita, Presiden Prabowo menurut saya harus tahun ini lebih banyak ngurus kandang kita di Asia Tenggara,” tegasnya.

MACAN ASIA

Dino juga mengomentari istilah ‘Macan Asia’ yang sering dikaitkan dengan narasi kepemimpinan Indonesia. Ia menilai, istilah tersebut lebih bersifat retoris dan kurang membumi jika dibandingkan dengan peran fungsional di ASEAN.

“Kita tidak perlu jadi macan Asia, kita perlu jadi mesin ASEAN, Macan Asia itu dari segi retorika agak jauh menurut saya. Tapi mesin ASEAN itu sangat realistis,” pungkasnya.

sumber : Merdeka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *