Urbantalk | Bombana – Hasanuddin, atau yang akrab disapa Acang, menghembuskan napas terakhir di RSUD Tanduale, Jumat siang (27/6/2025). Ia bukan pejabat, bukan pula birokrat. Tapi pikirannya selalu sibuk memikirkan rakyat.
Sabtu pagi, jasadnya dimakamkan di Lampopala. Di antara isak tangis dan doa, rekan-rekannya mengenang Acang sebagai sosok yang sederhana, namun penuh kepedulian.
Ia bukan tipe yang banyak bicara di panggung, tapi sering hadir di tengah pekerja buruh, petani, berdiskusi tentang pencetakan sawah, atau soal lapangan kerja.
“Dia lebih sering mikir orang lain daripada dirinya sendiri,” ucap H. Abdul Halik, kolega di Partai Bulan Bintang, yang memimpin pelepasan jenazah.
Hasanuddin lahir di Bone, 1979. Ia menapaki dunia dari madrasah kecil hingga menjadi aktivis HMI yang disegani. Ia pergi di usia 45 tahun, meninggalkan istri dan dua anak — serta kenangan tentang seorang lelaki yang hidupnya adalah cerita tentang memberi.









